Kamis, 10 Mei 2007
Kartini, Sukarno : Pikiran Tentang Poligami dan Paradoks Hidup
Debat pro-kontra masalah poligami bukan saat ini saja mengemuka. Jauh sebelum kemerdekaan isu mengenai poligami sudah ramai dibicarakan tokoh-tokoh bangsa.

Dalam surat-suratnya, yang kemudian diterbitkan [dalam Habis Gelap Terbitlah Terang atau dalam kompilasi Surat-Surat Kartini], Kartini banyak memberikan opininya mengenai poligami. Terlahir dari seorang istri selir Bupati, dalam budaya bangsawan yang poligami merupakan sebuah kewajaran Kartini menyuarakan penolakannya terhadap poligami. Ia menyebut poligami merupakan wujud egoisme lelaki. Tentu saja apa yang dia ungkapan, untuk berbaik sangka padanya, kita juga harus memberikan perhatian terhadap kenyataan aktual negatif dari penerapan poligami di masanya sebagaimana yang dia lihat atau rasakan.

Sukarno pernah terlibat perdebatan mengenai poligami dengan H. Agus Salim sekitar 1929. M. Natsir bersama dengan A. Hasan pernah bertemu dengan Sukarno dan menyampaikan kritik terhadap partainya [baca PNI] yang suka menjelek-jelekkan agama Islam, isu poligami salah satunya [sebuah roman biografi Inggit, Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH, menuliskan dialog yang terjadi antara mereka berempat].

Paradoksnya, Kartini akhirnya menjadi istri ke-empat dari Bupati Jepara. Setelah pernikahannya, surat-surat Kartini tidak lagi bernada menghujat poligami.

Paradoksnya, menjelang kemerdekaan Sukarno akhirnya menikah dengan Fatmawati, [Inggit konsisten dengan sikapnya yang tidak mau dimadu sehingga dia meminta cerai]. Sampai tahun enam puluhan tercatat kurang lebih 8 orang yang tercatat pernah menjadi istri Sukarno, sampai akhir hayatnya beberapa orang masih tercatat resmi sebagai istrinya [poligami]. H. Agus Salim kawan debat Sukarno ketika itu justru bertahan dalam monogami.

Saat melakukan kritik terhadap isu-isu di atas, Kartini dan Sukarno berdiri dalam posisi memenangkan logika atau nalar terhadap permasalahan yang ada. Ketika pilihan-pilihan hidup harus ditentukan, nalar saja tidak mencukupi atau bahkan nalar semata bisa saja dikorbankan; orang bisa menyebutnya sebagai pilihan-pilihan eksistensial.

posted by muslim_ghuraba @ Permalink ?08.00  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
 
Locations of visitors to this page
::Today::

QQ

::Diary::

::Tentang aku::

Assalamualaikum.perkenalkan nama saya Imam Kamarudin saleh. blog ini berisi 'kicauan' seorang mahasiswa TEP IPB yang terus berusaha untuk meningkatkan IP sebelum lulus, diBlog ini kamu bakal dapat 'gado-gado' dgn bahasa yg kadang gaul, formal, ampe rada 'kasar' yg khas mahasiswa dan anak muda tentang segala problema hidupnya, dr akademik, nilai2, cinta, pengharapan,IMPIAN, dan Kepasrahan total pd Rabb semesta alam...Allah SWT..so ENJOY my Blog!!!

::Goresan tinta::
::Arsip::
::Statistik::

::Tukeran links:



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

blog imam.k.s

::Didukung oleh::
::Site Feed::

:: Be Uniqe, Be Creative, Be Diffrent, Be Excelent with ISLAM (VERSI Bird)::

↑ Grab this Headline Animator

Add to Google Reader or Homepage

::LinkS::
::Hubungi aku::
::Papan Pesan::
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
"Sering terjadi pada umur yang panjang masanya, tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya, tapi panjang manfaatnya." (Ibnu Athaillah, Al Hikam)