Selasa, 01 Mei 2007
Beda...Orang lansia di Jepang dan di Indonesia



Apa yang dikerjakan orang-orang tua di Indonesia dan di Jepang dalam menghabiskan masa-masa tuanya ?

Berdasarkan pengamatan di Jepang, orang-orang tua yang berumur 50 tahun ke atas masih sehat, kuat, sehingga masih termasuk tenaga kerja produktif. Calon penguasa Tokyo saja, Pak Ishihara berumur 74 tahun tapi masih siap maju sebagai gubernur Tokyo tahun-tahun depan setelah sebelumnya telah berhasil membawa Tokyo menjadi kota metropolitan bergengsi di dunia.

Orang-orang tua yang saya jumpai sehari-hari di kereta, bahkan di tempat kerja saya adalah orang2 yang sama dengan saya bekerja part time. Kalau saya bekrja dengan alasan untuk biaya hidup dan sekolah, sedangkan mereka bekerja lebih karena bosan di rumah. Tidak ada kerjaan di rumah.

Selain bekerja part time, banyak juga di antara mereka yang menjadi volunteer kegiatan di lingkungannya, anggota pasukan bersih-bersih, membantu anak-anak SD menyeberang jalan, menjadi anggota patroli keliling yang bertugas mengawasi dan mengamankan anak sekolah, pergi dan pulang, atau menjadi volunteer guide bagi para foreigner, mengadakan kegiatan budaya untuk keperluan mahasiswa asing. Di Nagoya University bahkan banyak pula para kakek dan nenek yang masih bersemangat kuliah setelah mereka pensiun.

Boleh dikatakan orang tua di Jepang sangat mandiri dan enggan merepotkan anak cucunya.

Adapun di Indonesia, berdasarkan pengamatan saya terhadap kehidupan bapak dan mamak, kelihatannya kehidupan orang tua di Indonesia sangat nyaman.

Bapak dan mamak tinggal di perumahan yang banyak dihuni para pensiunan. Kegiatan mereka sehari-hari bisa dikategorikan menjadi dua yaitu kegiatan lahiriah dan kegiatan batiniah. Yang pertama dilakukan pagi-pagi, berupa jalan pagi atau subuh sama-sama, senam Tai chi, atau naik sepeda. Bapak masih suka naik sepeda ke kantornya untuk mengambil uang pensiun, padahal tergolong jauh (9 kiloan), entah karena alasan kesehatan atau pengiritan (^_^). Acara batiniah berupa sholat berjamaah, ngga tanggung-tanggung 5 kali sehari, sholat harus di masjid, kebetulan masjid dekat. Lalu ada pengajian rutin, yasinan, tahlilan yang bergilir setiap minggu. Mamak pun punya kegiatan arisan atau praktek buat kue.

Selain kegiatan jamaah seperti itu, Bapak juga memelihara lele di kolam kecil (ukurannya hanya 2m x 1m) plus mengawinkan bunga-bunga labu di pagi hari, membuang daun2 pisang yang mengering. Bapak punya koleksi pisang yang cukup banyak, saya dulu sampai pergi ke pusat tanaman pisang di Yogya dan hampir pingsan di dekat danau Sarangan untuk mengoleksi pisang-pisang. Bonggol-bonggol pisang pun kami bawa dari Sulawesi. Selain pisang, Bapak juga menanam aneka sayuran. Kalau tidak mengurusi sayuran, biasanya Bapak nongkrongi ayam-ayamnya. Mamak tentu saja lebih banyak mengurusi rumah tangga.

Kegiatan jamaah seperti yasinan, pengajian Al-Quran adalah sebuah gerakan yang sangat menarik bagi saya. Dulu saya termasuk menentang dengan alasan, yasin tidak perlu dibaca secara berjamaah dan dijadikan wajib, yang penting dirutinkan adalah membaca Al-Quran. Gara-gara mengikuti kegiatan yasinan, dulu bapak hanya membaca yasin saja dan tidak mau membaca ayat-ayat Al-Quran yang lain. Tapi sekarang beliau sudah khatam berkali-kali bahkan mungkin lebih rutin dari saya.

Ya, jika melihat kegitan yasinan dari sudut pandang yang lain, sungguh kegiatan ini sangat berguna bagi para orang2 tua. Saya belum bisa membayangkan rasanya hidup di umur2 tua, sehingga tidak bisa pula membayangkan nikmatnya berkumpul dengan teman sebaya, membaca Al-Quran bersama, bertemu, bertegur sapa, berbual-bual, tertawa dengan orang-orang yang masih saling menghargai.

Yang patut diacungi jempol adalah kecenderungan orang-orang tua di Indonesia untuk `berjalan menuju masjid`. Masjid-masjid di subuh, maghrib, isya selalu dipenuhi para orang tua. Merekalah yang memakmurkannya. Tapi menjadi pertanyaan mengapa orang muda tidak demikian ? Barangkali karena orang muda masih berpikir masih ada waktu, toh umur tua adalah fase yang pasti akan kita hadapi. Sayangnya kita lupa bahwa mungkin kita tidak akan sampai pada fase itu.

Orang tua Jepang, orang tua Indonesia pada dasarnya sama. Semuanya masih ingin aktif, masih ingin berbuat kebaikan di muka bumi, tidak ingin merepotkan orang lain, termasuk anak cucunya. Tapi sebagai anak, saya ingin direpotkan oleh mereka !

(dari sensei murni yang lagi di jepang. Ganbaremasu!)
posted by muslim_ghuraba @ Permalink ?07.21  
0 Comments:
Posting Komentar
<< Home
 
 
Locations of visitors to this page
::Today::

QQ

::Diary::

::Tentang aku::

Assalamualaikum.perkenalkan nama saya Imam Kamarudin saleh. blog ini berisi 'kicauan' seorang mahasiswa TEP IPB yang terus berusaha untuk meningkatkan IP sebelum lulus, diBlog ini kamu bakal dapat 'gado-gado' dgn bahasa yg kadang gaul, formal, ampe rada 'kasar' yg khas mahasiswa dan anak muda tentang segala problema hidupnya, dr akademik, nilai2, cinta, pengharapan,IMPIAN, dan Kepasrahan total pd Rabb semesta alam...Allah SWT..so ENJOY my Blog!!!

::Goresan tinta::
::Arsip::
::Statistik::

::Tukeran links:



Copy kode di bawah masukan di blog anda, saya akan segera linkback kembali

blog imam.k.s

::Didukung oleh::
::Site Feed::

:: Be Uniqe, Be Creative, Be Diffrent, Be Excelent with ISLAM (VERSI Bird)::

↑ Grab this Headline Animator

Add to Google Reader or Homepage

::LinkS::
::Hubungi aku::
::Papan Pesan::
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
"Sering terjadi pada umur yang panjang masanya, tapi sedikit manfaatnya. Ada pula umur yang pendek waktunya, tapi panjang manfaatnya." (Ibnu Athaillah, Al Hikam)